6 Fakta Kasus Pembunuhan Feby Kurnia Yang Bikin Heboh

Feby Kurnia – Sesosok mayat perempuan ditemukan di dalam toilet lantai lima gedung Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (2/5/2016) petang.

Dari identifikasi polisi, perempuan tersebut diketahui bernama Feby Kurnia, mahasiswi Program Studi Geofisika F-MIPA UGM angkatan 2015 yang dilaporkan hilang sejak Kamis, 28 April 2016, lalu.

Feby diduga korban pembunuhan. Pada Selasa (3/5/2016) malam, polisi menangkap tersangka pembunuhan Feby.

Ada 6 Fakta Kasus Pembunuhan Feby Kurnia Yang Bikin Heboh Diantaranya;

Berita kehilangan

Sebelum ditemukan tewas, sebenarnya sempat beredar di media sosial di grup Gadjah Mada Muda mengenai hilangnya mahasiswi Geofisika tersebut.

Berita kehilangan itu berbunyi: Teman kita, saudara kita, teman seperjuangan kita mahasiswa UGM (Geofisika) bernama Feby Kurnia asal Batam Kepulauan Riau sudah menghilang selama 4 hari (Info tanggal 1Mei), mohon jika menemukan, atau melihat, atau mendengar informasi tentang beliu, diharapkan segera menginformasikannya kepada keluarganya.#solidaritasMahasiswaBatamJogja.

Di berita kehilangan tersebut juga diunggah foto Feby Kurnia dengan mengenakan jilbab putih sedang bersama seorang perempuan.

Sempat kuliah di ruang 507

Kapolres Sleman Ajun Komisaris Besar Yulianto mengatakan Feby dibunuh di toilet kampus. Peristiwa nahas itu terjadi pada Kamis, 28 April 2016.

Yulianto sebagaimana dilansir Liputan6 mengatakan, sekitar pukul 06.00 WIB di kampus FMIPA UGM lantai 5 Feby datang ke tempat kuliah dan masuk ke kelas ruang 507. Feby merupakan orang pertama yang datang ke kelas. Ketika itu Eko Agus Nugroho sedang membersihkan kelas 506.

Lalu Feby menuju ke kamar mandi wanita dan Eko Agus Nugroho menyusul. Tiba-tiba pria itu mencekik Feby hingga meninggal dunia.

Setelah itu, Eko Agus Nugroho menggendong jasad Feby dan dibawa ke dalam toilet yang berada paling ujung dan menaruhnya di lantai sambil menutupi wajahnya dengan kerudung.

Kemudian Eko Agus Nugroho mengambil 2 HP bermerek Samsung, powerbank dan STNK motor milik Feby dari dalam tas serta kunci motor di dalam saku.

Eko Agus Nugroho meninggalkan jasad Feby dengan mengunci pintu kamar dari luar dan melanjutkan pekerjaan membersihkan ruang kelas hingga pukul 08.30 WIB. Eko Agus Nugroho  kemudian bertemu saksi bernama Mirna yang merupakan petugas pembersih toilet dan berpesan bahwa toilet ujung jangan dibuka karena kerannya rusak.

Selanjutnya, Eko Agus Nugroho membawa sepeda motor milik Feby dan menitipkan di Terminal Giwangan karena searah dengan jalan ke rumah dan kembali ke kampus untuk menyelesaikan pengumpulan data ke mandor.

Keesokan harinya atau Jumat 29 April 2016, Eko Agus Nugroho tetap bekerja seperti biasa pada pukul 04.30 WIB dan saat bekerja kembali bertemu Mirna dan kembali berpesan untuk tidak membuka pintu toilet ujung.

Pada pukul 10.00 WIB pelaku kembali ke Terminal Giwangan untuk memindahkan sepeda motor Feby ke area parkir di sebelah utara.

Pelaku membalas pesan singkat

Eko Agus Nugroho ternyata juga sempat membalas pesan singkat dari ibu Feby dan mengangkat telepon dari teman korban yang mencari. Dalam pengakuannya, dia nekat membunuh Feby karena butuh uang.

Pada Selasa 3 Mei 2016, polisi meringkus EA di pinggir jalan depan rumahnya di Dusun Jati, Desa Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul.

Polisi mengamankan barang bukti berupa dua buah ponsel, powerbank, dan tas ransel milik Feby yang ditemukan di lokasi pembunuhan. Selain itu polisi juga membawa sepeda motor Yamaha Mio bernomor polisi BP 4864 JH, sepatu dan baju milik EA. Kemudian barang bukti yang dibeli dari hasil kejahatan berupa sepasang sandal perempuan dan anak serta celana pendek juga disita polisi.

Yulianto mengatakan barang hasil kejahatan berupa ponsel digadaikan senilai Rp 560.000 dan dibelikan sandal untuk anak Eko Agus Nugroho.

Sementara Wakapolda DIY Kombespol AH Gani mengatakan pihaknya masih terus mendalami kasus ini.

“Motif sementara ingin menguasai barang milik korban selebihnya masih kami dalami,” ujar Gani di Polda DIY, Rabu (4/5/2016).

Untuk sementara, EA dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

SMS terakhir

Dyanti Isnani Siregar, kakak sepupu almarhum Feby Kurnia, mengaku, pada 29 April 2016, sempat berusaha menghubungi nomor ponsel adiknya dengan panggilan telepon dan SMS.

Meski dibalas, Dyanti merasa curiga, SMS yang diketik bukanlah dari Feby Kurnia. Pasalnya, logat yang terlihat dari gaya bahasa SMS tersebut berbeda.

Ini isi percakapan SMS Dyanti dan pengguna nomor Feby.

“BI, lagi dimana? mba ani nyariin dari td malam,” tulis Dyanti.

“Maaf kak, td malam engak pamit, aku d rmh temen, sekali lagi Feby minta maaf kak,” demikian balasan SMS via nomor ponsel Feby Kurnia.

“Ya sudah, skrg Febi telp Mama Febi dulu. Dia khawatir tuh,”

“Udah kak, ini LG smsan sama Mama,”

Dyanti melakukan kontak via SMS ini pada Selasa, 29 April 2016 pukul 08.53 WIB.

 

CCTV tak berfungsi

CCTV di dekat lokasi ditemukannya jenazah Feby tidak berfungsi. Padahal CCTV bisa menjadi petunjuk penting bagi pengungkapan kasus ini. Terdapat dua CCTV yang berada di sekitar lokasi pembunuhan mahasiswi UGM Yogyakarta. Namun, kedua CCTV yang terpasang di dua lorong ruangan di lantai 5 itu mati.

“Itu sudah terpasang lima tahun lalu, belum diperbaiki karena rusak,” kata Dekan Fakultas MIPA UGM, Pekik Nurwantoro pada wartawan di Mapolda DIY, Rabu (4/5/2016).

Meski demikian, beberapa tempat lain terdapat CCTV yang berfungsi optimal. Dia memberi contoh di pintu masuk dan lokasi parkir gedung tersebut. Jumlah CCTV juga cukup banyak.

“Banyak yang baru dipasang sekitar satu tahun ini. Kita akan optimalkan lagi pengamanan atas kejadian ini,” jelasnya.

Pihaknya akan menambah jumlah CCTV yang tersebar di gedung tersebut. Pihaknya berharap peristiwa ini merupakan kejadian pertama dan terakhir di kampus tersebut.

Sementara Wakapolda DIY Kombes Pol Abdul Hasyim Gani mengatakan, pemasangan CCTV dapat membantu pengungkapan kasus jika terjadi tindak kejahatan. “Soal CCTV monggo, dari UGM yang menyampaikan pada wartawan disini,” jelasnya sebagaimana dilansir SindoNews.

Hasil Otopsi tak memuaskan keluarga

Paman Feby, Anto Suprapto menilai, pihak rumah sakit tidak memberikan data yang detail.

“Tak mungkin dia meninggal karena dicekik saja. Foto yang saya temukan pertama kali ditemukan darah dari kepala korban,” ujar Anto usai pemakaman Feby di TPU Taman Langgeng Seipanas, Rabu (04/05/2016).

Seharusnya, kata Anto, menjelaskan secara transparan kepada pihak keluarga, sehingga keluarga tahu persis.

Sebelumnya Ketua tim forensik Rumah Sakit Sardjito, dr. Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada, menepis luka di leher yang menyerupai jeratan leher. Menurutnya, itu bukan bekas jeratan tali tapi lipatan leher yang membengkak karena jenazah sudah membusuk sehingga menyerupai jeratan tali.

“Kondisi jenazah yang sudah membusuk dan bengkak terlipat, sehingga tampak seperti luka jeratan,” ujar dr. Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada, seperti dilansir RRI. Bahkan, tim forensik juga menyebut tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Feby.

Namun polisi yang mengevakuasi jenazah Feby di toilet lantai 5 gedung pasca sarjana UGM sedari awal berkeyakinan kalau Feby dibunuh.

Dugaan itu benar, Feby dibunuh petugas kebersihan kampus bernama R Eko Agus Nugroho (26). Eko menghabisi nyawa Feby pada Kamis sore (28/4/2016).

Eko dibekuk polisi di Sleman, Selasa sore (3/5/2016) mengaku ke polisi kalau ia membunuh Feby dengan cara dicekik. Namun polisi masih mengorek informasi karena jika hanya dicekik, Feby pasti melakukan perlawanan sehingga TKP harusnya acak-acakan.

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*