4 Kesamaan Mengapa ‘Surat dari Praha’ Di Bilang Plagiat

Surat dari Praha – Cerita Jaya bersama Laras namun jauh dari romansa. Mereka adalah dua generasi berbeda. Laras mengunjungi Jaya di Praha untuk mengantarkan pesan sebuah kotak dan sepucuk surat dari Sulastri (Widyawati).

Jaya merupakan mahasiswa ikatan dinas dari Indonesia yang tinggal di Praha, dan tak bisa pulang akibat kejadian 1965 di kampung halamannya. Bertahun-tahun ia menjadi stateless, atau tanpa kewarganegaraan. Ia bertahan hidup tanpa siapa-siapa.

Surat dari Praha membuat kekaguman Glenn terhadap sang sutradara Angga Dwimas Sasongko karna bisa menjahit menjadi sebuah kisah yang menarik.

“Saat pertama kali membacanya, saya senang sekali karena ternyata Angga mampu menjahitnya menjadi sebuah kisah yang sangat menarik,” ujar Glenn dalam keterangan pers yang diterima Rabu (11/11).

Glenn menuturkan pada CNN Indonesia, filmnya akan membungkus kisah tersembunyi terkait 1965, dengan cerita cinta. Surat dari Praha rencananya akan tayang di bioskop pada 28 Januari 2016, menyuguhkan romantisme yang tersisa dari 1965.

Namun di balik penyayangan Surat Dari Praha ini, sebuah petisi menolak film Surat Dari Praha ini karna Yusri Fajar selaku pencetus duluan Surat Dari Praha menganggap karya dari Angga Dwimas Sasongko ini sebuah plagiat.

Sebuah situs bernama change.org muncul dan mengajak para netter menandatangani petisi guna memboikot film “Surat dari Praha”. Boikot itu sendiri merupakan bentuk protes atas tudingan plagiat film tersebut dari buku karya Fajar.

Petisi yang mengatasnamakan “Tolak Film Surat dari Praha” itu sendiri sudah telah mengumpulkan 843 suara dari netter. Sejumlah komentar miring pun dilontarkan oleh netter untuk film arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko ini.

“‘Surat dari Praha’ merupakan karya asli Bapak Yusri Fajar dan saya menolak yang namanya plagiasi,” tulis seorang netter. “Saya tahu bahwa buku tersebut benar-benar milik Bapak Yusri Fajar dan saya mengecam keras plagiasi,” tulis lainnya.

4 Kesamaan Mengapa ‘Surat dari Praha’ Di Bilang Plagiat antara lain;

  1. Judul yang sama persis. Buku Pak Yusri, telah beredar lebih dulu yaitu tahun 2012. Selepas beliau kembali dari Eropa ketika itu.Sedangkan film ini baru tayang tahun 2016, proses shooting 2015.
  2. Alur cerita dan lokasi yang memiliki kemiripan dengan yang ada dibuku.Walau antara kumcer dan film memiliki perbedaan.
  3. Cover buku Surat dari Praha (2012) dan poster film Surat dari Praha 12 Februari 2015 (metronews.com)sebelum dirubah “kebetulan” memiliki banyak kemiripan yaitu 2 orang berdiri diatas jembatan Charles Praha.
  4. Kesamaan media yang dipakai yaitu surat.

Angga Dwimas Sasongko Beri Klarifikasi Perihal Plagiat

Sutradara film Surat dari Praha, Angga Dwimas Sasongko sebagaimana dilansir tempo, menyayangkan adanya tuduhan plagiarisme oleh akademikus Yusri Fajar terhadap filmnya. Tudingan tersebut, menurut Angga, merugikan nama baik dan citra profesional timnya. “Secara sepihak, ada penggiringan opini untuk menghakimi kami tanpa legal standing yang kuat,” ujar Angga saat menggelar konferensi pers di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Senin, 1 Februari 2016.

Menurut Angga, hingga saat ini, Yusri belum menunjukkan itikad baik untuk membicarakan masalah tersebut. Yang ada, beredar kabar jika Yusri telah mengirimkan somasi. Namun, Angga menegaskan, pihaknya sama sekali belum menerima somasi dari pihak Yusri. “Kami tidak pernah menerima somasi sampai sekarang, jadi kami sulit memberi respons terhadap apa yang sebenarnya menjadi poin keberatan dari Yusri Fajar secara hukum,” ujar Angga.

karya Angga dituduh menjiplak cerpen Yusri yang berjudul sama dan diterbitkan empat tahun lalu. Padahal, menurut Angga, penulis skenario, Irfan Ramli, pun baru mengetahui cerpen karya Yusri saat dosen Universitas Airlangga tersebut mulai menyampaikan keberatannya di media.

Agustus 2015 lalu, saat proses syuting baru akan dimulai, perwakilan tim Surat dari Praha sempat mengontak dan bertemu Yusri. Lewat pertemuan itu, menurut Angga, sudah cukup jelas diketahui jika isi cerita dari film mereka berbeda dengan karya milik Yusri. “Pertemuan waktu itu benar-benar mengklarifikasi tuduhan dan kedua karya ini bisa dibandingkan isinya,” ucap Angga.

Angga melanjutkan, film Surat dari Praha memiliki legal standing yang sesuai dengan perundang-undangan hak cipta. Ia telah mendaftarkan paten karya tersebut di kelas 41 terkait dengan film bioskop, kelas 9 terkait dengan cakram digital, dan kelas 16 terkait dengan poster film.

Kesamaan judul dan tema karya, menurut Angga, bukan bagian dari pelanggaran hak cipta. Itu lumrah terjadi dalam berkesenian. Angga menyodorkan beberapa contoh judul novel yang sama dan hadir di tahun berbeda. Seperti Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul Perahu Kertas dan novel karya Dewi Lestari yang berjudul sama. Atau novel berjudul Pulang yang, setidaknya pernah ditulis tiga penulis berbeda dan mengangkat tema tak sama.

Secara tema, soal kehidupan eksil politik 1965 di Praha adalah bagian sejarah yang tak bisa diklaim sepihak. “Siapa pun bisa menceritakan peristiwa terkait sejarah dalam bentuk fiksi atau nonfiksi,” ucapnya.

Angga mengaku sudah menawarkan mediasi untuk melakukan pertemuan, ditengahi pakar hak kekayaan intelektual. Tapi, menurut dia, gagasan tersebut belum direspons Yusri Fajri.

Berita Terkait

Deretan Film-Film Blockbuster Tahun 2016 Yang Wajib Ditonton !!

Inilah 10 Daftar Film Seru di Tahun 2016, Catet Tanggalnya

Wah Isyana Sarasvati Ketauan Plagiat Lagu Maroon 5 ?

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*