Tersangka Pembunuh Mirna Cuma Satu, Polisi: “Pelaku Ogah Mengaku”

Pembunuh Mirna – Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti mendatangi Kejaksaan Tinggi DKI hari ini (26/01) untuk mengungkapkan pembunuh Mirna ya selama ini sudah di selidiki pihak polisi.

Krishna Murti mengatakan bahwa kini pihak kepolisian telah mengantongi alat bukti yang sangat kuat dan dan dalam waktu dekat siap untuk menetapkan siapa tersangka pembunuh Mirna.

“Alat bukti sudah kuat. Dari minimal dua alat bukti yang harus dikantongi, kami bahkan sudah memiliki empat alat bukti,” ujar Krishna, Senin (25/1/2016).

Krishna menambahkan, empat alat bukti kasus Mirna adalah, Baca berita lengkapnya di 4 Bukti Ini Akan Menjerat Pelaku Kasus Mirna

Namun, untuk menjerat pembunuh Mirna polisi masih kekurangan alat bukti. Meskipun sebenarnya kepolisan telah mengantongi 4 alat bukti. Padahal jumlah minimal alat bukti untuk menjerat seseorang sebagai tersangka cukup 2.

“Analisa semalam masih ada kekurangan (alat bukti). Alat bukti kami sudah ada 4, misalnya keterangan ahli, kami tambah lagi,” ujar Krishna di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (26/1/2016). Baca berita lengkapnya di Pembunuh Mirna Was-Was, 4 Alat Bukti Masih Kurang

Tersangka Pembunuh Mirna Cuma Satu

Sebagaimana yang dilansir tempo,  Krishna Murti mengatakan penyidik sudah memiliki bukti yang cukup untuk menetapkan tersangka pembunuh Mirna.

“Berdasarkan alat bukti dan konstruksi peristiwa yang kami miliki, seseorang cukup layak dijadikan tersangka,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Komisaris Besar Krishna Murti di Polda Metro Jaya, Selasa, 26 Januari 2016.

Namun, ucap Krishna, penyidik harus mengekspos bukti-bukti tersebut kepada jaksa penuntut umum. Petunjuk atau barang bukti yang akan ditunjukkan kepada jaksa adalah barang bukti krusial yang dimiliki penyidik untuk mengungkap kasus ini. “Kami yakin itu barang bukti cukup signifikan dan sekarang sedang diuji. Dan apa petunjuk jaksa dari itu,” ujarnya.

Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Waluyo menuturkan kedatangan penyidik tersebut untuk koordinasi mengungkap kasus kematian Mirna.

“Koordinasi tertutup. Sifatnya konsultasi dan ada komunikasi,” kata Waluyo di kantornya, Selasa, 26 Januari 2016.

Menurut Waluyo, konsultasi itu untuk menghindari pengembalian berkas.

“Itu intinya. Tapi barang buktinya apa, saya belum tahu, karena berkasnya belum dikirim,” ucapnya.

Kejaksaan, ujar Waluyo, sudah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) kasus kematian Mirna.

“Sudah kami terima kemarin, dan ini sudah sesuai dengan SOP (standar operasional prosedur).”

Polisi Sebut Pelaku 90 Persen Tak Akan Mengaku

Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Krishna mengatakan ada satu kondisi dalam penyidikan yang bisa dipakai sebagai senjata oleh pelaku untuk melawan bukti polisi.

“Saya tak bisa sebutkan apa itu. Yang pasti kami harus menguatkan alat bukti agar sah dan tak terbantahkan,” ujar Krishna di Polda Metro Jaya, Senin malam, 25 Januari 2016.

Krishna mengatakan bahwa hambatan penyidikan kasus ini masih wajar. “Sebanyak 90 persen dari 300 kasus racun yang ditangani polisi di dunia, pelakunya memang tak mau mengaku,” ujar Krishna menjelaskan teori yang didapatnya dari pengalaman yang dilansir dair tempo.

Pemeriksaan keterangan saksi ahli dari Pusat Laboratorium Forensikm Polri terkait alat bukti kasus ini sudah dilakukan. Keterangan dokter yang memeriksa jasad Mirna pun akan digali penyidik Selasa besok, 26 Januari 2016. “Sebenarnya keterangan beberapa saksi ahli saja cukup, tapi kami ingin memperkuat bukti. Kami akan periksa 8-9 saksi ahli,” kata dia.

Keterangan saksi ahli terakhir yang sempat disebut sebelumnya, kata Krishna, sudah diperoleh. “Kami sudah komunikasi lebih lanjut dengan saksi ahli itu,” kata dia.

Menurut Krishna, koordinasi Polda Metro Jaya dengan kepolisian Australia untuk mencari informasi seputar latar belakang kehidupan Mirna dan teman-temannya semasa berkuliah di Australia masih berlanjut. “Mereka (Kepolisian Australia) minta waktu seminggu lagi untuk penyelidikan, ditunggu saja,” kata dia.

Wayan Mirna Salihin, 27 tahun, meninggal usai meminum es kopi ala Vietnam di kafe Olivier, Mall Grand Indonesia, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada 6 Januari 2016. Kopi tersebut kemudian diketahui mengandung sianida. Hingga kini polisi belum menetapkan tersangka.

Untuk Anda, siapapun pelakunya, hati hati dengan sianida. Kenali bau sianida di makanan dan minuman karna setelah kasus ini berakhir yang lain akan mengikuti cara pembunuhan yang lebih sempurna dari pembunuh Mirna.

Berita Terkait

Update! 7 Fakta Jessica Kumala Wongso Dalam Kasus Wayan Mirna

12 Foto Wayan Mirna Salihin Meninggal Usai Ngopi di Grand Indonesia

Saudara Kembar Wayan Mirna, Sandy Salihin Histeris Di Pemakaman Wayan

 

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*