Malam 1 Suro, Fakta Dan Mitos Malam 1 Suro Serta Maknanya

Malam 1 Suro, sebenarnya merupakan saat ketika masyarakat Jawa merayakan tahun baru. Dalam Islam, ini dikenal dengan tanggal satu Muharam. Berbeda dengan kebiasaan masyarakat modern, saat malam 1 Suro tiba, orang Jawa tidak menyambutnya dengan kemeriahan, melainkan dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.

Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (merenung sambil berdoa). Sebagian orang bahkan memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.

Ritual 1 Suro sebenarnya telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi). Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem Kalender Hijriah. Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharam sebagai tahun baru Jawa.

Fakta dan mitos Malam 1 Suro 2015 sering susah dibedakan oleh masyarakat, terutama di kalangan berbahasa Jawa yang meyakini malam ini sebagai malam sakral nan keramat. Tahun ini, malam 1 Suro 2015 jatuh pada tanggal 13 Oktober atau Rabu malam ini. Tidak sedikit yang memahami pantangaan atau ritual malam 1 Suro adalah mutlak mesti dilakukan. Benarkah demikian?

Ada yang unik dalam kalender Jawa. Kalender ini merupakan perpaduan budaya Hindu-Budha dengan Islam. Patokan tahun pertama di kalender Jawa, mengikuti tahun Saka. Penanggalannya dimulai pada 78 Masehi. Ketika budaya Hindu-Budha datang ke Indonesia, tahun Saka inilah yang digunakan. Ketika agama Islam masuk ke Mataram, Sultan Agung memperkenalkan sistem penanggalan baru, yaitu dengan tetap mengikuti patokan Tahun Saka, tetapi memperkenalkan sistem dan nama-nama bulan dari Islam.

Oleh karena itu muncullah Sapar, adaptasi dari kata Safar atau Mulud, yang diambil dari hari Maulud Nabi (peringatan kelahiran Nabi) untuk padanan bulan Rabiul Awal dalam kalender Islam. Sementara, untuk bulan pertama, diambil nama bulan Suro. Ada beberapa kepercayaan bahwa di bulan Suro ini masyarakat Jawa memiliki pantangan.

Yang paling mudah dilihat adalah pantangan tidak boleh menikah di bulan ini karena kemungkinan cerainya lebih besar. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pandanagn jika bulan Suro dianggap sebagai bulan sial, sehingga berbagai macam pesta juga tidak diperkenankan. Tentunyayang demikian ini lebih mengarah pada mitos, daripada fakta.

Fakta dari bulan Suro, adalah adanya  kirab pusaka di dua keraton, Mangkunegaran dan Surakarta Hadiningrat. Dalam kirab ini, akan dipamerkan berbagai pusaka dari keraton. Juga penampilan kerbau putih atau kebo bule, yang nantinya kotorannya dijadikan rebutan oleh masyarakat yang percaya, kotoran tersebut memberikan berkah. Tentu berkah kerbau bule ini terrmasuk mitos pula.

Masyarkat Jawa, yang memiliki pusaka, biasanya juga memanfaatkan malam 1 Suro untuk keritual unik seperti mencuci senjata pusaka (penjamasan). Ada pula yang melakukan mandi kungkum (menenggelam) di tempat-tempat tertentu yang lekat dengan kesan mistis. Ada pula yang melakukan acara mubeng beteng, mengelilingi benteng yang mengitari keraton, tanpa berbicara.

Ritul-ritual ini diyakini akan memberikan keberkahan bagi yang mengikutinya. Namun tidak sedikit pula yang mengkritik, kegiatan ini berbau syirik atau menyekutukan Allah.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*