Pulau Sumba Jadi Kawasan Percontohan Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi

Sumba jadi kawasan percontohan icnic islandSapujagat.comSumba Iconic Island adalah program multi-stakeholder yang diprakarsai oleh Hivos dengan tujuan ambisius untuk membuat sebuah pulau terpencil di Indonesia (Sumba) 100 % terbarukan, dengan peran-peran penting yang dimainkan oleh komunitas lokal dalam proses co-creation ini antara banyak pemangku kepentingan, termasuk pemerintah Indonesia, pemerintah daerah, masyarakat dan organisasi masyarakat sipil lokal, penyedia bantuan teknis, donor internasional dan nasional, peneliti dan lembaga penelitian, sektor swasta termasuk investor, bank, CSR dari berbagai perusahaan dan lain-lain.

Tahun ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menjalankan program Sumba Iconic Island. Target dari program itu adalah mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan sehingga pada 2025 seluruh penduduk di pulau bisa menikmati listrik dari jenis energi tersebut.

Untuk memulai program tersebut, pemerintah berencana menghibahkan 20 sampai 25 unit mobil bertenaga matahari (surya) dengan nilai investasi mencapai Rp 27 miliar kepada Pemerintah Daerah setempat.

“Kenapa Sumba, karena hasil survey yang dilakukan ESDM bersama Bappenas dan lembaga riset Belanda, Ivos tahun 2009-2010 pulau ini memenuhi kriteri. Disana ada potensi (energi) panas, lahan, air, angin dan kebetulan rasio elektrifikasinya juga kecil. Disamping jumlah penduduknya juga masih sekitar 660 ribu saat itu, jadi masih sedikit,” kata Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana di Jakarta, Selasa (10/2) malam.

Selain ketersedian sumber daya alam, Rida mengatakan dipilihnya Pulau Sumba sebagai kawasan percontohan pemanfaatan EBTKE juga dilatarbelakangi oleh respons positif Pemerintah Daerah untuk membantu program tersebut. Rida mengklaim, empat Kabupaten yang terdapat di Sumba menyetujui program Sumba Iconic Island yang dirancang Pemerintah Pusat.

“Percuma juga kalau Pemerintah Pusat punya program tapi nggak disetujui pemda. Untungnya disana ada empat Kabupaten dan semuanya setuju,” cetusnya.

Pada awal 2014 lalu, PT PLN (Persero) sendiri telah meresmikan beroperasinya beberapa pembangkit listrik tenaga mikro hidro dan surya di Sumba, yaitu Pusat Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTMH) Kamanggih 1×40 kilo Watt (kW), PLTMH Lapopu 2×800 kW, dan Pusat Listrik Tenaga Surya (PLTS) Salura 1×150 kilo Watt peak (kWp).

Sebelumnya di Sumba telah beroperasi sejumlah pembangkit energi baru dan terbarukan yaitu PLTMH Lokomboro 2,3 MW, PLTMH Laputi 32 kW, PLTS Bilachenge 480 kWp, PLTMH Kamanggih 40 kW dan PLTMH Lapopu 1,6 MW sehingga total daya energi baru terbarukan mencapai 4,45 Megawatt (MW).

Dengan beroperasinya PLTMH dan PLTS tambahan tersebut maka sekitar 55 persen kebutuhan listrik di Sumba dipasok dari pembangkit berbahan bakar energi terbarukan. Beban puncak di empat kabupaten di Sumba sendiri yaitu Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya sebesar lebih kurang 8 MW.

Rida mengungkapkan, saat ini terdapat 5 negara yang telah mendukung program tersebut. Kelima negara tersebut meliputi Amerika Serikat, Belanda, Denmark, Norwegia, dan Perancis.

Selain 5 negara, katanya, adapula lembaga keuangan internasional seperti Asian Development Bank dan United Nation Development Programme (UNDP) yang juga mendukung proyek ini.

“Sumba itu sudah dikenal diluar negeri karena mau dijadikan proyek percontohan. Jadi proyek ini keroyokan,” pungkasnya.

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*