Hasil Survei Menyatakan Jakarta Salah Satu Kota Yang Tak Aman !!

Hasil Survei Menyatakan Jakarta Salah Satu Kota Yang Tak Aman !!

Keamanan suatu negara berhubungan erat dengan kekayaan dan pembangunan ekonomi. Kota-kota di negara Asia yang kaya, yakni Tokyo, Singapura, dan Osaka merajai tiga posisi teratas dalam indeks ini.

Sementara Jakarta menduduki posisi terendah dari 50 kota yang disurvei dalam hal keamanan secara keseluruhan. Jakarta hanya naik ke posisi 44 untuk kategori jaminan kesehatan.

Maka keamanan kota menjadi masalah penting dari waktu ke waktu. Mengamankan keselamatan publik berarti mengantisipasi sejumlah risiko.

Sebuah survei dari Economist Intelligence Unit menempatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman di dunia. Survei yang meneliti 50 kota di dunia itu disponsori oleh NEC. Survei memasukkan 40 indikator kuantitatif dan kualitatif.

Ke-40 indikator tersebut terbagi dalam empat kategori tematik yakni keamanan digital, jaminan kesehatan, infrastruktur, dan personal. Setiap kategori terbagi lagi ke dalam tiga hingga delapan subindikator, seperti langkah kebijakan dan frekuensi kecelakaan lalu lintas.

Survei terfokus pada 50 kota yang dipilih Economist Intelligence Unit berdasarkan beberapa faktor, misalnya representasi daerah dan ketersediaan data. Oleh sebab itu survei ini tidak menunjukkan data secara lengkap.

Saat ini kota merupakan ‘rumah’ bagi sebagian besar manusia di planet ini. Tingkat urbanisasi di setiap wilayah bervariasi, mulai dari 82 persen populasi di Amerika Utara sampai 40 persen di Afrika.

Namun semua tempat diperkirakan akan mengikuti tren urbanisasi yang lebih besar dalam 30 tahun mendatang. Lagos yang merupakan kota terpadat di Nigeria misalnya, jumlah penduduknya diperkirakan akan berlipat ganda dalam 15 tahun mendatang.

Dalam survei ini, ibu kota Jepang, Tokyo, menduduki peringkat tertinggi dalam hal keamanan secara keseluruhan. Ini membuktikan bahwa kota dengan penduduk amat padat ternyata bisa masuk ke daftar kota teraman di dunia. Tokyo juga punya skor bagus dalam hal keamanan digital, tiga poin di atas Singapura yang menduduki posisi kedua.

Sementara Jakarta menduduki posisi terendah dari 50 kota yang disurvei dalam hal keamanan secara keseluruhan. Jakarta hanya naik ke posisi 44 untuk kategori jaminan kesehatan.

Sementara kota di negara tetangga mereka seperti Ho Chi Minh dan Jakarta mengisi dua tempat terbawah.

Survei ini juga menampilkan bahwa kekayaan dan sumber daya melimpah dari suatu negara ternyata tidak selalu menjamin keamanan suatu kota. Setidaknya ada empat dari lima kota di Timur Tengah yang masuk kategori kaya, namun peringkatnya buruk. Sebut saja Abu Dhabi yang hanya menduduki peringkat ke-25, dan Riyadh di posisi ke-46.

Dalam hal keamanan digital, kota-kota di Amerika Serikat seperti Los Angeles, San Francisco, dan Chicago menempati peringkat atas. Sementara kota-kota di Eropa menduduki peringkat rendah. London misalnya hanya menempati posisi ke-16, sementara Roma ke-35.

Padat penduduk tak selalu tak aman

Beberapa kota yang muncul di peringkat atas sebagai kota dengan kategori aman adalah kota-kota kecil. Amsterdam yang berpopulasi sekitar 780 ribu jiwa misalnya menduduki peringkat kelima. Begitu pula Zurich yang berpopulasi 380 ribu jiwa menduduki peringkat ketujuh.

Sementara kota-kota dengan jumlah penduduk yang lebih padat masih harus berjuang menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi warganya.

Kota padat atau kerap disebut megacity adalah kota dengan penduduk lebih dari 10 juta jiwa. Berdasarkan data Perserikatan Bangsa-Bangsa, Tokyo merupakan kota terpadat di bumi, sebuah predikat yang tampaknya masih akan menempel pada kota itu hingga 2030. Penduduknya mencapai 38 juta orang. Sementara Jakarta punya populasi 10,17 juta jiwa, masih jauh di bawah Tokyo.

Namun seperti telah dikemukakan di atas, ternyata kota padat penduduk masih bisa menjadi kota yang aman. Hanya enam kota padat penduduk di dunia yang mampu membuktikannya, yakni Tokyo, Osaka, New York, Los Angeles, Paris, dan London.

Selain Buenos Aires, 14 kota padat lainnya yang berada di peringkat bawah merupakan negara yang tergabung dalam BRICS, yaitu Brazil, Rusia, India, China. dan Afrika Selatan.

Tokyo dan Jakarta sama-sama kota padat, namun Tokyo menduduki peringkat pertama sebagai kota yang aman, sedangkan Jakarta paling akhir. Ibu kota Indonesia ini hanya mampu mencuri peringkat ketiga dari bawah dalam kategori keamanan digital serta infrastruktur. Peringkat ‘tertinggi’ yang bisa diraih Indonesia hanyalah peringkat ke-44 untuk kategori jaminan kesehatan.

Meski Jakarta bukan kota dengan catatan paling buruk dalam hal kasus kekerasan, namun kejahatan ringan cukup tinggi di kota ini. Berbeda dengan Tokyo yang memiliki tingkat kejahatan rendah.

Tentunya tingkat ekonomi jadi pembeda antara kedua kota itu. Populasi Indonesia sekitar 250 juta jiwa, sementara Jepang hanya sekitar 127 juta orang. Namun kekayaan Jepang jauh di atas Indonesia. Bila dihitung berdasarkan GDP per kepala, kekayaan Jepang sebesar US$ 36 ribu pada paritas daya beli sekitar Rp 450 juta. Jumlah ini empat kali di atas Indonesia yang hanya US$ 9 ribu  atau sekitar Rp 112 juta.

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*