Apa Itu Syok Anafilaktik

Apa Itu Syok AnafilaktikApa Itu Syok Anafilaktik, merupakan suatu reaksi alergi berat yang terjadi tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian. Anafilaksis biasanya ditunjukkan oleh beberapa gejala termasuk di antaranya ruam gatal, pembengkakan tenggorokan, dan tekanan darah rendah. Reaksi ini umumnya disebabkan oleh gigitan serangga, makanan, dan obat.

Anafilaksis terjadi karena adanya pelepasan protein dari jenis sel darah putih tertentu. Protein ini merupakan senyawa yang dapat memicu reaksi alergi atau menyebabkan reaksi lebih berat. Pelepasan protein ini dapat disebabkan oleh reaksi sistem imun ataupun oleh sebab lain yang tidak berkaitan dengan sistem imun. Anafilaksis didiagnosis berdasarkan gejala dan tanda pada seseorang. Tata laksana awal adalah suntikan epinefrin yang kadang dikombinasikan dengan obat lain.

Di seluruh dunia sekitar 0,05–2% orang mengalami anafilaksis pada suatu saat dalam kehidupannya. Angka ini tampaknya terus meningkat. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani ἀνά ana, lawan, and φύλαξις phylaxis, pertahanan.

Penyebab Anafilaksis

Zat yang menjadi penyebab paling umum anafilaksis adalah makanan seperti kacang tanah, biji wijen, kerang, susu, dan telur.

Penisilin dan obat tertentu dan sengatan serangga seperti lebah, tawon, serta semut api adalah penyebab lain yang bertanggung jawab untuk syok anafilaksis.

Selain ini, anafilaksis juga bisa disebabkan oleh lateks alam (karet), relaksan otot, dan latihan fisik.

Gejala Anafilaksis

Penyebab anafilaksis dibagi menjadi dua jenis: IgE mediated dan non IgE mediated.

IgE mediated menyebabkan sensitivitas anafilaksis pada paparan pertama dan kemudian menginduksi reaksi parah pada eksposur kedua.

Penyebab IgE mediated termasuk obat (Penisilin, Sefalosporin, Anestesia, dll), sengatan serangga, makanan (kacang, kerang, kedelai, gandum, telur, dll), dan vaksin berbasis gelatin, produk karet, protein hewani, dll.

Penyebab non IgE mediated disebut sebagai anaphylactoid (“seperti anafilaksis”).

Paparan pertama terhadap penyebab alergi dapat langsung mengakibatkan reaksi parah karena anafilaksis jenis ini tidak memerlukan sensitisasi sistem kekebalan tubuh.

Penyebab mungkin termasuk obat (anti-inflamasi non-steroid, relaksan otot, gamma globulin, dll), pewarna sinar-X, pengawet, latihan fisik, dan beberapa penyebab yang tidak diketahui.

Gejala-gejala anafilaksis dapat diamati dalam beberapa detik, menit, atau bahkan jam.

Semakin cepat gejala yang diamati, semakin sensitif dan berat konsekuensinya.

Berikut ini adalah beberapa gejala paling umum anafilaksis.

1. Kemerahan pada kulit. Kulit juga mungkin terasa hangat dan lunak saat disentuh.

2. Gatal yang terjadi pada pangkal paha atau ketiak atau di seluruh tubuh.

3. Kegelisahan dan kehilangan kesadaran.

4. Bengkak di lidah yang mengakibatkan suara serak, kesulitan menelan, dan bernapas.

5. Pembengkakan pada saluran napas dan tenggorokan, yang menyebabkan kesulitan bernapas parah dan bahkan dapat menghentikan pernapasan.

6. Hidung berair, bersin, dan mengi terutama pada orang dengan asma.

7. Muntah, diare, kram perut, dan mual.

8. Tekanan darah rendah dan denyut nadi tidak teratur.

9. Dalam kondisi sangat parah jantung mungkin akan berhenti berfungsi.

10. Pusing dan muntah.

Pengobatan Anafilaksis

Mereka yang mengalami asma atau eksim, berada pada risiko lebih besar terkena syok anafilaksis.

Seseorang yang telah mengalami anafilaksis sebelumnya harus mengikuti pedoman untuk pencegahan anafilaksis.

Menghindari alergen adalah cara terbaik untuk mencegah syok anafilaksis.

Berikut adalah alternatif pengobatan anafilaksis:

1. Manajemen Gangguan Pernapasan

Sistem kardiovaskular yang dipengaruhi oleh reaksi alergi yang parah akan membuat penderitanya mengalami gangguan pernapasan.

Saat pernapasan pasien berhenti, cardiopulmonary resuscitation (CPR) harus dilakukan. CPR adalah bagian integral dari manajemen jalan nafas.

Untuk alasan yang sama, suplementasi oksigen merupakan bagian penting dari perawatan anafilaksis di rumah sakit.

Harus dipastikan pasien tidak menderita komplikasi karena kadar oksigen yang rendah dalam darah.

2. Cairan Intravena

Anafilaksis menyebabkan pembengkakan tenggorokan sehingga pasien tidak dapat menelan makanan atau minuman.

Dalam keadaan seperti itu, cairan harus diberikan secara intravena.

3. Suntikan Epinefrin

Karena pelepasan histamin menyebabkan cairan bocor (keluar) dari pembuluh darah, epinefrin diberikan sehingga dapat menyempitkan pembuluh darah.

Epinefrin adalah hormon yang bertindak menginduksi proses ‘melawan atau melarikan diri’ saat seseorang berada di bawah ancaman.

Pemberian epinefrin menyebabkan jantung memompa darah lebih cepat, dan juga membantu dalam pelebaran saluran udara ke paru-paru.

Epinefrin membalikkan efek dari zat dilepaskan selama syok anafilaksis dan digunakan sebagai bagian dari pengobatan darurat.

4. Terapi Obat

Obat diberikan untuk menghentikan pelepasan histamin.

Obat tersebut disebut sebagai antihistamin yang berfungsi membalikkan efek histamin dan karena itu digunakan untuk mengurangi gejala alergi.

Kortikosteroid atau obat anti-inflamasi mungkin juga diresepkan untuk menurunkan peradangan.

Karena anafilaksis (anaphylaxis) menyebabkan penurunan tekanan darah, obat-obatan untuk menstabilkan tekanan darah pasien juga bisa diberikan.

Demikian ulasan mengenai Apa Itu Syok Anafilaktik, dengan tau anda dapat mengobati bahkan mencegah terjadinya syok anafilaktik. Baca juga Apa Itu Penyakit Croup

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*