Jokowi Disebut The New York Times “Mulai Kehilangan Kilaunya”

Jokowi Disebut The New York Times Mulai Kehilangan KilaunyaSapuajagat.com – Dalam artikel yang ditulis koresponden The New York Times Joe Cochrane berjudul ‘For Indonesians, President’s Political Outsider Status Loses Its Luster‘, dijabarkan berbagai kebijakan dan keputusan Presiden Jokowi yang justru merusak citranya sendiri.

The New York Times menyebut, kekhawatiran persoalan politik dalam pemerintahan Jokowi justru terletak pada koalisinya sendiri. Hal ini dikaitkan dengan penunjukan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai calon tunggal Kapolri pada 9 Januari lalu yang menjadi kontroversi.

Artikel itu terbit di edisi cetak Minggu 18 Januari 2015 dan menjadi pembicaraan di twitter Jumat (23/1/2015), sosok Jokowi disebut sebagai ‘political outsider‘ yang menjanjikan pemerintahan yang merakyat atau ‘people-centric politics‘ ketika dia terpilih menjadi Presiden RI.

Political outsider merupakan sebutan bagi seseorang yang memegang jabatan penting yang mampu mengguncang sistem yang sudah ada, mengubah hal yang tak bisa diubah serta memberi angin segar dan membawa harapan bagi konstituennya.

Menurut artikel tersebut, para pendukung Jokowi sangat mengharap keajaiban sedangkan lawan politiknya meyakini pemerintahan Jokowi tidak akan bertahan hingga setahun. Baru 3 bulan atau nyaris 100 hari Jokowi menjabat, harapan pendukung maupun lawan politiknya belum bisa terbukti benar atau salah.

Menurutnya, satu-satunya yang bisa ditebak dalam dunia politik di Indonesia adalah ketidakpastian itu sendiri. Meskipun kini, kiprah kepemimpinan Jokowi mulai menunjukkan kekecewaan bagi para pendukungnya.

Penunjukkan BG ini dinilai tidak tepat oleh banyak pihak, bahkan pendukung Jokowi sendiri, terlebih setelah BG ditetapkan sebagai tersangka korupsi oleh KPK. The New York Times menyoroti isu bahwa BG merupakan titipan dari Megawati Soekarnoputri yang selama ini memegang pengaruh besar terhadap Jokowi.

Namun, terlepas dari penunjukkan BG, The New York Times menyebut masih ada sejumlah blunder lainnya yang dilakukan oleh Jokowi dalam kepemimpinan dan keputusannya. Blunder ini, menurutnya merusak reputasi Jokowi sebagai ‘political outsider‘ dan menodai janjinya untuk menciptakan pemerintahan bersih.

Dikutip dari Detik.com, salah satu blunder yang dimaksud The New York Times ialah ketika Jokowi mengisi separuh kabinetnya dengan orang-orang yang memiliki kaitan dengan Megawati dan PDIP, serta partai politik dan kelompok yang menjadi pendukungnya saat kampanye.

Hal ini, menurut The New York Times, bertentangan dengan pernyataan Jokowi saat kampanye bahwa dirinya akan membentuk susunan kabinet profesional. Artikel itu secara khusus menyoroti penunjukan Puan Maharani yang merupakan putri Megawati sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia.

Tidak hanya itu, penunjukan HM Prasetyo sebagai Jaksa Agung juga menjadi blunder Jokowi. Sebabnya, Prasetyo yang mantan jaksa ini telah bergabung menjadi kader Partai Nasdem yang juga masuk koalisi Jokowi.

Disebutkan juga spekulasi publik bahwa Megawati mengendalikan Jokowi dari balik layar.

“Itu menggarisbawahi seberapa besar dia (Jokowi-red) menjadi sandera dari pemain berpengaruh lainnya dalam kabinetnya, khususnya Megawati,” sebut Edward Aspinall, profesor politik dari Australian National University di Canberra.

“Setelah dia menjadi presiden, banyak fokus mengarah pada hubungannya dengan oposisi di DPR, tapi sebenarnya isu sebenarnya adalah mengelola koalisinya sendiri,” tandasnya.

Jadi tersangkanya Budi Gunawan dan di tangkapnya Bambang Widjojanto menjadi cobaan yang berat dalam pemerintahan Jokowi, apa akan ada lagi “cicak vs buaya” versi lainnya?

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*