Mencegah Kemungkinan Batalnya Kesepakatan Perdamaian, Pemberontak Houthi Terpaksa Menculik Kepala Staf Presiden Yaman

26-tentara-berjaga-di-sanaa-wartaperangSapujagat.com – Insiden penculikan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di negara Semenanjung Arab menyusul maraknya pemberontak Syiah Houthi. Houthi menguasai ibukota Sana’a sejak akhir tahun lalu, dan memicu pertempuran yang menewaskan lebih dari 300 orang dalam kurun waktu satu bulan.

Sebelumnya, Ahmed bin Mubarak, kepala staf Presiden Yaman, Abd Rabbuh Mansur Al-Hadi, diculik sekelompok orang bersenjata di pusat kota Sana’a, pada Sabtu (17/1) pagi. Sesaat setelah penculikan, kelompok pemberontak Syiah, Houthi, menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

“Pemberontak Houthi terpaksa menculik Mubarak, karena ini merupakan langkah penting untuk menghapus kemungkinan batalnya kesepakatan perdamaian dan transisi,” tulis pernyataan resmi dari faksi politik kelompok Houthi, Ansarullah, dikutip dari CNN, Sabtu (17/1).

Mubarak sempat dinominasikan sebagai perdana menteri pada bulan Oktober lalu oleh Presiden Hadi. Namun, keputusan tersebut ditentang oleh kelompok pemberontak Houthi yang menguasai ibu kota Sana’a.

Sehari setelah penculikan, yaitu Sabtu (18/1), pemimpin provinsi Yaman selatan memberikan tenggat waktu bagi kelompok Houthi selama 24 jam untuk melepaskan Mubarak.

Seperti dilaporkan Al-Arabiya, pemerintah Yaman mengajak seluruh komponen politik untuk menghentikan keanggotaan mereka dalam semua komite, dan menghimbau warga, utamanya di utara Yaman yang terkenal sebagai markas Houthi, agar mendukung pemerintah.

Sementara itu, pemerintah juga menghimbau agar penduduk di kota Shabwa, Hadramouth, dan Maareb untuk menghentikan operasi semua perusahaan gas dan minyak.

Diduga, Mubarak diculik untuk mencegah kesepakatan damai yang ditengahi PBB, dan agar Mubarak tidak hadir dalam pertemuan yang membahas rancangan konstitusi.

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*