Kendaraan Peluncur Satelit India yang Nilainya US$ 300 Miliar Berhasil Melakukan Uji Coba

1136Sapujagat.com – Kendaraan yang diberi nama Geosynchronous Satellite Launch Vehicle (GSLV) Mark III, yang mampu membawa satelit dengan bobot sekitar 4 ton ke orbit. Kemampuan membawa bobot ini diklaim India telah mengalami peningkatan dua kali lipat dibanding kendaraan mereka sebelumnya.

Badan antariksa India, Indian Space Research Organization (ISRO) berharap bisa mendapatkan celah pasar dalam industri peluncuran satelit global yang nilanya diprediksi mencapai US$ 300 miliar.

India tercatat sebagai negara Asia pertama yang berhasil mencapai orbit Mars dalam upaya pertama. Pada September lalu, misi antariksa India yang diberi nama Mars Orbiter Mission, memasuki orbit planet merah tersebut. Misi ini dipuji karena hanya memakan biaya US$ 74 juta.

ISRO launches GSLV Mark-III

Uji coba yang dilakukan pada 18 Desember lalu tersebut, membantu ISRO untuk mengetahui stabilitas desain kendaraan dalam menghadapi atmosfer Bumi.

“Kendaraan peluncur yang kuat akan mengubah nasib kita dalam menempatkan berbagai pesawat ruang angkasa ke orbit untuk komunikasi,” kata S. Somnath, Direktur Proyek GSLV, seperti dikutip dari Reuters.

ISRO mengatakan kendaraan peluncur ini merupakan kendaraan tanpa awak. Selanjutnya, mereka akan mengembangkan agar kendaraan tersebut mampu menjalankan misi dengan awak.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, hendak mengembangkan kemampuan negara itu dalam misi antariksa. Pemerintah setempat setuju meningkatkan dana penelitian antariksa sebesar 50 persen menjadi US$ 1 miliar per tahun.

Para ahli mengatakan uji coba GSLV menempatkan India untuk selangkah lebih dekat dalam menjadi pemain kuat dalam bisnis antariksa global.

Saat ini, GSLV didukung oleh tiga mesin. ISRO mengatakan mesin ketiga masih dalam tahap pengembangan.

“Kami masih perlu menempatkan mesin ketiga yang lebih berat untuk memastikan kendaraan ini dapat digunakan dengan sukses dalam misi berawak dan peluncuran satelit yang lebih berat,” ujar Mayank Vahia, seorang ilmuwan dari Tata Institute of Fundamental Research yang dikutip dari CnnIndonesia.

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*