Awal Pekan 2015 Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Melemah

083889000_1414038733-Ilustrasi-Ihsg-20141023-JohanSapujagat.com – Menutup perdagangan Jumat (2/1/2015), IHSG berada di posisi 5.242,77, naik 15,82 poin atau 0,3%.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat Rp 12.552/US$, melemah dibandingkan saat pembukaan pasar Rp 12.475/US$.

Laju nilai tukar Rupiah bergerak di zona merah di tengah sempitnya hari perdagangan dan berbarengan dengan rilis berita penyempurnaan PBI Nomor 16/21/PBI/2014 tanggal 29 Desember 2014 tentang Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank dan Surat Edaran Ekstern Nomor 16/24/DKEM tanggal 30 Desember 2014 perihal Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank.

“Laju Rupiah berada di bawah target level support Rp 12.442. Terlihat harapan positif kami terhadap data-data makroekonomi yang dirilis tidak sesuai dengan harapan sehingga membuat nilai tukar Rupiah bergerak melemah. Waspadai berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah. Rp 12.470-12.482 (kurs tengah BI),” sebutnya.

“Tampaknya pelaku pasar masih melakukan aksi beli meskipun volume transaksi agak sedikit surut. Penguatan pada saham-saham konsumer, perkebunan, dan properti masih dapat menyokong penguatan IHSG,” kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Reza Priyambada dalam risetnya seperti dikutip detikFinance, Minggu (4/1/2015) yang dikutip dari Detik.com.

Pada perdagangan Senin (5/1/2015), IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5215-5235 dan resisten 5250-5258.

“Tampaknya pelaku pasar masih melakukan aksi beli meskipun volume transaksi agak sedikit surut. Penguatan pada saham-saham konsumer, perkebunan, dan properti masih dapat menyokong penguatan IHSG,” kata Kepala Riset Woori Korindo Securities Reza Priyambada dalam risetnya seperti dikutip detikFinance, Minggu (4/1/2015).

Menurut Reza, nett sell asing dan rilis data-data makroekonomi Indonesia yang tidak begitu baik tidak menghalangi IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya.

Adapun transaksi asing tercatat nett sell tipis (dari net buy Rp 2,5 triliun menjadi net sell Rp 4,17 miliar)

“Lagi pula, rasanya tidak pas jika setelah dibuka oleh Presiden RI, Jokowi, yang mau menyempatkan datang untuk membuka perdagangan awal tahun di tengah kesibukannya mengawasi jalannya proses evakuasi korban AirAsia lalu disuguhkan dengan pemandangan melemahnya saham-saham di BEI,” ujarnya.

Selain itu, Reza menyebutkan, kebijakan pemerintah menghapus subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium menjadi sentimen positif di market.

“Investor juga telah diberikan kado akhir tahun di mana subsidi untuk bahan bakar Ron 88 (premium) telah dihapus, paling tidak kado tersebut dapat mengimbangi sentiment negatif dari rilis data-data makroekonomi RI,” katanya.

Berikut saham-saham pilihan: KIJA, SSMS, BSDE, INDF, LPKR, UNVR

 

 

Loading…

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*