Tahun 2015 Maplecroft Memprediksi Dunia Masih Akan Menuai Ancaman Dari Terorisme

korban-teroris-assadSapujagat.com – Verisk Maplecroft memperkirakan terorisme dan kekerasan politik akan terus berlanjut pada 2015 di Suriah, Irak dan Nigeria. Mesir dan Libya, lanjut lembaga ini, juga disorot sebagai negara berbahaya sasaran terorisme pada 2015.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon awal Desember lalu mengatakan bahwa 2015 adalah tahunnya “aksi global”. Ban menyerukan seluruh komunitas di seluruh dunia untuk memberantas ekstremisme.

“Tahun 2015 harus menjadi tahun aksi global. Saat PBB memasuki usia 70 tahun pada 2015, kita punya tugas memenuhi panggilan masyarakat seluruh dunia untuk berbagi kemakmuran dan masa depan gemilang untuk semua,” kata Ban.

Smith Al Hadar, pengamat Timur tengah dari Indonesian Society for Middle East Study, mengatakan bahwa serangan Amerika Serikat dan sekutunya terhadap ISIS di Timur Tengah memang melemahkan kelompok tersebut, namun hanya memotong ekornya saja.

“Mereka hanya memotong di ekor para jihadis, tetapi akar ideologi tetap hidup dan menyebar. Hal ini disebabkan situasi dunia Islam dan juga pengaruh dari dunia luar,” kata Smith pada CNN Indonesia.

Menurut Chaidar upaya pemberantasan terorisme di Indonesia masih belum optimal karena belum terlalu menyasar ideologi.

Awal tahun 2014, pemerintah pernah mendatangkan ulama asal Yordania Syekh al-Halaby untuk berdiskusi dengan para tersangka terorisme di berbagai penjara. Menurut Chaidar ini belum cukup.

Dia menjelaskan, pemerintah harus mengadakan diskusi atau debat yang disiarkan secara nasional untuk mematahkan prinsip-prinsip radikalisme.

“Banyak hasil diskusi yang seharusnya disiarkan. Ada beberapa tema yang sangat dikuasai ilmuwan dari berbagai universitas, di antaranya wacana tentang konsep khilafah, jihad, baiat atau negara Islam,” tegas Chaidar.

“Mereka (kelompok radikal) belum menyadari tindakan mereka merusak agama Islam. Citra Islam menjadi jelek,” lanjut Chaidar lagi.

Di penghujung 2014, serangan semacam ini terjadi di sebuah kafe di pusat bisnis kota Sydney, Australia. Man Haron Monis, pengungsi asal Iran, menyandera tamu dan pelayan kafe Lindt pada 15-16 Desember 2014.

Drama penyanderaan berakhir dengan baku tembak yang menewaskan Monis dan dua orang sandera. Monis dalam akun media sosialnya mengaku mendukung ISIS.

Serangan serupa juga terjadi di Perancis, saat pelaku menabrakkan mobilnya ke sekumpulan orang sambil berteriak takbir.

Menurut Menteri Keamanan Dalam Negeri Jeh Johnson, lone wolf adalah fenomena yang baru ditemuinya belakangan ini. Fenomena ini menghancurkan paradigma lama AS yang menyelidiki pola terorisme yang sama selama bertahun-tahun.

“Inti dari al-Qaidah adalah komando yang relatif tradisional dan kendali yang terstruktur. Seseorang akan direkrut al-Qaidah, dilatih di kamp luar negeri dan dikirim untuk melakukan serangan teroris,” ujar Johnson, November lalu pada CNN.

“Fenomena terbaru yang saya lihat sangat memprihatinkan. Seseorang yang sama sekali tidak pernah bertemu anggota organisasi teroris, tidak pernah dilatih di kamp, yang hanya terinspirasi oleh sosial media –literatur, propaganda, pesan– melakukan tindak kekerasan di sebuah negara,” lanjut Johnson.

Tahun depan perkara lone wolf ini diprediksi masih akan menghantui banyak negara. Pemerintah Amerika Serikat dan Eropa tahun depan akan lekat mengawasi media sosial dan internet.

Menurut laporan Institute for Policy Analysis of Conflict, IPAC, September lalu pemerintah harus mengawasi ruang percakapan internet, salah satu tempat ISIS membentuk dukungan.

Ruang percakapan itu, kata IPAC, dijalankan oleh pendiri Al-Muhajiroun, kelompok garis keras yang berdiri di Inggris tahun 2005. Kelompok ini mengadakan acara di berbagai kota di Indonesia untuk meyakinkan umat Muslim untuk berbaiat pada Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS.

“Salah satu rekomendasi untuk pemerintah baru: Memperkuat kapasitas penjara dan pusat imigrasi untuk mengawasi potensi para pembuat kekacauan namun tetap menyerahkan upaya pemberantasan terorisme di tangan polisi,” kata Sidney Jones, direktur IPAC dalam pernyataannya, dikutip International Business Times.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*