Menyesuaikan Anjlok Harga Minyak Dunia, Pemerintah Berencana Turunkan Harga Premium Jadi Rp 7.400

139246_pembatasan-bahan-bakar-minyak--bbm--bersubsidi_663_382Sapujagat.com – Ekonom yang juga Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas Faisal Basri menyatakan harga premium saat ini Rp 8.500 per liter sudah berada jauh di atas harga keekonomian. Dari hitungannya, dengan kurs rupiah di level Rp 12 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) dan harga MOPS RON 92 di kisaran US$ 65 per barel, harga keekonomian premium berada di kisaran Rp 5.495 per liter.

Jika dihitung dengan kurs yang sama dan harga MOPS di US$ 70 per barel, maka harga keekonomian premium berada di Rp 5.879 per liter.

“Rumusnya masih yang sama yakni 0,9842 MOPS 92 ditambah alpha. Jadi premium sudah diatas harga keekonomian kalau sekarang dijual Rp 8.500 per liter,” terang Faisal.

Sedangkan jika kurs berada di level Rp 12.500 per dolar AS dan MOPS 92 di kisaran US$ 65 per barel, dia bilang, harga keekonomian premium berada di Rp 5.703 per liter. Sementara dengan kurs yang sama dan harga MOPS di US$ 70 per barel, harga premium keekonomian berada di Rp 6.103 per liter.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium sebesar Rp 1.100 per liter dari Rp 8.500 menjadi sekitar Rp 7.400. Turunnya harga premium menyesuaikan dengan anjloknya harga minyak dunia di pasar Brent dan Mean of Platts Singapore (MoPS) yang menjadi acuan harga minyak impor Indonesia.

“Harga (premium) turun karena harga minyak (dunia) juga sedang turun,” ujar Pelaksana tugas Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Naryanto Wagimin di Jakarta, Selasa (30/12) malam.

Selain premium, Naryanto bilang pemerintah juga berencana menurunkan harga BBM jenis solar dari Rp 7.500 per liter menjadi sekitar Rp 7.250 per liter, atau turun sekitar Rp 250. “Harga ini masih di subsidi sekitar Rp 1.000-an per liter,” tutur Naryanto.

Rencana penurunan harga dua produk BBM bersubsidi tak lepas dari rencana pemerintah yang akan menyesuaikan harga jual premium dan solar dengan mengikuti harga keekonomian. Disamping itu, kebijakan yang dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) tersebut juga dimaksudkan dalam rangka menghapus pengenaan subsidi pada produk premium.

Akan tetapi, Naryanto menegaskan bahwa penurunan harga premium ke angka Rp 7.400 per liter bukan berarti harga tersebut dilepas ke mekanisme pasar.

“Perpres-nya tidak bilang begitu. Yang pasti detilnya tunggu pengumuman besok (pagi ini),” pungkasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*