Indonesia semakin Kokoh Menguasai Pasar Motor Asean

honda-pasar-motor-akan-flat-di-tahun-depan-wf1S6lkpMMSapujagat.com–  Dari lima negara anggota AAF, hanya Indonesia dan Filipina yang tumbuh positif. Indonesia masih menjadi pasar ‘kuda besi’ tersubur di kawasan dengan angka penjualan mencapai 6,76 juta unit, meningkat 3,5 persen dibandingkan periode Januari-Oktober 2013. Sementara penjualan motor di Filipina sebanyak 635.328 unit atau tumbuh 4,5 persen.

Sementara Thailand, Malaysia, dan Singapura menjadi penyebab anjloknya pasar otomotif Asean. Thailand tercatat hanya menjual 1,46 juta unit motor, turun 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 1,73 unit.

Sedangkan jumlah motor yang terjual di Negeri Jiran hanya sebanyak 374.487 unit, menyusut 18,7 persen dibandingkan dengan porelah Januari-Oktober 2013 yang mencapai 460.766 unit.

Demikian halnya dengan Singapura, permintaan kendaraan roda dua di negara tersebut berkurang 28,2 persen, dengan hanya mencatatakan angka penjualan 6.919 unit.

Indonesia semakin kokoh menguasai pasar motor Asean hingga Oktober 2014, yakni mencapai 73,2 persen. Pangsa pasar Indonesia meningkat dibandingkan posisi Oktober 2013 yang sebesar 70 persen.

Thailand mengekor di peringkat kedua, dengan pangsa pasar 15,8 persen. Disusul kemudian Filipina 9 persen, Malaysia 4 persen, dan Singapura tak sampai 1 persen.

Secara umum, selisih penjualan dengan tingkat produksi tidak terlalu jauh. Indonesia masih menjadi produsen terbesar dengan tingkap produksi mencapai 6,7 juta unit. Kemudian Thailand 1,5 juta unit, Filipina 612.444 unit, dan Malaysia 371.394 unit.

Pertumbuhan tipis pasar motor Indonesia sudah diprediksi sejak awal oleh Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI). Perkembangan harga komoditas yang tak kunjung membaik menjadi pemicu melemahnya permintaan kendaraan roda dua.

“Tahun ini total market akan berkisar 7,8 juta unit sampai 8,1 juta unit,” ujar Johannes Loman, Wakil Ketua I AISI belum lama ini.

Ketua Bidang Komersial AISI melihat stagnasi penjualan kendaraan roda dua tidak hanya terjadi di pasar domestik, tetapi juga di pasar ekspor. Fenomena ini diyakini masih akan berlanjut pada tahun depan.

Selain karena imbas kenaikkan harga BBM bersubsidi, Sigit menilai pelemahan permintaan lebih banyak disebabkan oleh faktor penurunan harga komoditas.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*