Bahaya loh! Mencubit Pipi Bayi - Infotainment News Online Terkini

JagatLifestyle

Bahaya loh! Mencubit Pipi Bayi

on

index

Sapujagat.com –Ketika kita melihat bayi yang lucu, terkadang respon kita ialah mencubit pipi bayi tersebut. Sering kali dalam mencubit pipi menjadi sangat tidak tertahankan dan dilakukan secara berlebihan bahkan dilakukan berulang – ulang. Kita sering mencubit bila orang itu memancarkan wajah yang lucu dan menggemaskan seperti pria yang mencubit wanitanya karena chubby, ibu yang mencubit anaknya karena tingkah lakunya yang lucu, dsb. Tetapi apakah kita sudah mengetahui bahwa dibalik respon kita tersebut sebenarnya mengandung bahaya tersendiri ?maksud hati adalah ungkapan kasih saying, tapi ternyata tak semua menyukainya loh..Berikut ulasan lengkapnya,

Bayi lebih sensitif

Menurut Ristriarie Kusumaningrum, M. Psi, bayi banyak belajar dan membentuk pengalaman pertama dengan menggunakan sensori (panca indra). Bayi lebih sensitif dalam kadar sentuhan maupun penglihatan.

Meski bayi belum memiliki penglihatan yang sempurna, tapi ia mengenali ibu atau sosok pengasuh dari aroma, gerakan dan suara. Jika ada banyak orang asing yang memberikan bentuk perhatian berupa ciuman, pelukan, gelitik atau “cubitan” gemas. maka hal itu akan membuat bayi merasa tidak nyaman. Apalagi jika bentuk ekspresi tersebut diberikan dalam bentuk yang berlebihan. Biasanya bayi akan mulai menunjukkan rasa tidak nyaman dengan cara gelisah, ekpresi wajah mulai cemberut atau terlihat seperti mau menangis.

Tidak berlebihan

Perlu moms ketahui, wujud kasih sayang yang berlebihan tersebut dapat menimbulkan pengalaman yang buruk. Terlebih, jika si kecil sudah merasa tidak nyaman dan mulai terlihat gelisah bahkan menangis namun masih tetap dicium atau digelitiki. Dan, makin parah lagi jika yang melakukan adalah orang asing atau sosok yang belum dikenal oleh si kecil.

Berdasarkan pengalaman yang tidak enak tersebut bayi bisa menjadi lebih berhati-hati atau menolak jika ada orang asing yang mau mendekatinya. Sebenarnya, tindakan mengekspresikan kasih sayang dalam bentuk mencium, mencubit, atau menggelitik, apabila kadarnya tidak sampai menyakiti dan bayi juga terlihat menikmati interaksinya, dengan tertawa dan merespons dengan senyuman bahkan suara, maka boleh saja dilakukan.

Ekspresi kasih sayang sebenarnya bisa diberikan dalam beragam bentuk dan sejak masih bayi sentuhan merupakan hal yang diperlukan untuk membentuk attachment (kelekatan). Jika salah satu pihak ada yang merasa kurang nyaman, maka sebaiknya tidak diteruskan dan tetap juga dampingi bayi jika ada orang asing yang mengajak bermain dengan cara menggelitik karena biasanya kalau bayi sudah merasa tidak nyaman, maka akan berusaha mencari sosok yang ia kenal untuk meminta perlindungan atau bantuan.

Cara menolak halus

Nah, untuk menolak secara halus jika ada orang lain yang ingin mencubit bayi kita karena gemas atau mencium atau bahkan menggelitiki, moms bisa mengatakan, “Maaf ya, yang dipegang bagian tangannya atau lengan bawahnya saja ya karena ia sensitif kalau dicubit pipinya atau kalau digelitiki perut atau pinggangnya”.

Semua bentuk kasih sayang dan ekspresi verbal maupun non-verbal dapat diberikan dengan beragam cara, asalkan memang kadar kuantitas dan kualitasnya tidak berlebihan. Perhatikan ekspresi non-verbal dari respons yang diberikan bayi. Jika mereka sudah merasa tidak nyaman, mungkin sebaiknya dihentikan atau ajak bermain dengan cara lain. Cara mengekspresikan kasih sayang juga bisa diberikan dengan cara verbal atau berkomunikasi. Misalnya dengan mengajak bicara, bernyanyi, membacakan cerita atau dongeng.

Bahaya loh!

Ditemui di tempat terpisah, dr. As’at Hadiwinoto SKM, SpA, juga sependapat bahwa ketika melihat bayi yang lucu, wajar bila orang lain merasa gemas. Respons yang ditunjukkan bisa dalam bentuk reaksi lisan seperti memuji anak, maupun dalam bentuk perbuatan seperti mencium, mencubit pipi atau menggelitiki.

Namun, jika dilakukan secara berlebihan akan berdampak negatif pada si kecil, baik itu dari segi psikologis maupun fisik. Berikut di antaranya:

Mencubit pipi

Seringkali mencubit pipi dilakukan secara berlebihan bahkan dilakukan berulang–ulang. Sementara pipi atau kulit bayi masih sangat halus dan cenderung sensitif, ketika kita dengan sengaja atau tidak sengaja mencubit pipi ataupun bagian kulit lainnya dapat menyakiti si kecil yang menimbulkan luka memar dan pendarahan di kulit dan bawah kulit/timbul bekuan darah. Selain itu bayi cenderung sering mudah menangis. Berikut adalah bahaya dari segi fisik:

1. Luka memar. Saat mencubit akan meninggalkan warna merah dan kebiruan ke dalam kulit. Perubahan warna yang merupakan hasil dari aksi mencubit merusak pembuluh kapiler di kulit. Pembuluh darah di bawah kulit yang rusak membuat daerah yang terkena menjadi memar.

2. Timbul bekuan darah. Ketika Anda sengaja mencubit bayi ada kecenderungan bahwa hal tersebut akan membentuk bekuan darah/gumpalan darah di bawah kulit yang dikenal sebagai “hematom” . Sebaiknya jangan mencubit bayi tapi sentuhlah pipinya secara halus tanpa ada penekanan pada pipi bayi.

Mencium pipi

Banyak moms yang saking sayangnya, mencium bayinya berulangkali di semua bagian pipi. Tingkah bayi yang lucu memang terkadang membuat gemas dan ingin melampiaskannya lewat ciuman. Namun ternyata, kebiasaan mencium bayi terbukti membahayakan kesehatan bagi sang bayi sendiri. Karena, banyak kuman ataupun virus penyebab penyakit yang dapat ditularkan melalui udara pernapasan yang menyebar di udara sehingga terhirup oleh bayi. Kebiasaan mencium berpotensi menyebabkan bayi terkena penyakit Invasive Pneumococcal Disease (IPD), yaitu sekelompok penyakit infeksi pneumokokus seperti radang paru (pneumonia), infeksi darah (bakteremia), dan radang selaput otak (meningitis).

Dr. As’at juga mengingatkan sebaiknya tidak mencium si kecil langsung ke mulut karena mulut yang sehat saja masih ada kuman, apalagi jika dicium oleh mulut yang kotor dan banyak terkontaminasi kuman, pasti akan cenderung mudah sekali menularkan penyakit. Sebaiknya, hindari mencium wilayah hidung dan mulut bayi. Agar mencegah penularan kuman yang keluar dari pernapasan kita yang bisa terhirup oleh bayi sehingga bisa menyebabkan penyakit pada bayi.

Menggelitiki

Salah satu cara mudah untuk membuat anak kecil tertawa adalah dengan menggelitiknya. Dengan menggelitik salah satu bagian tubuhnya, bayi/anak akan merasa geli dan tertawa. Namun, tidak semua orang akan merasa geli saat digelitik dan tidak semua tempat bersifat sensitif terhadap geli. Di samping itu, respons yang diberikan setiap orang saat digelitik pun berbeda-beda, sebagian orang mungkin akan tertawa, terkejut atau bahkan marah (merasa terganggu).

Tertawa saat digelitiki bisa jadi hanya merupakan cara untuk mengatasi ketidaknyamanan fisik. Ketika bayi sudah menetapkan batas kemampuan tubuh saat menerima rangsangan, Anda harus memahaminya. Jangan terlena dengan terus menggelitiki. Perhatikan bahasa tubuh si kecil, hentikan jika ia terlihat tidak nyaman atau jika tertawanya berlebihan. Hati-hati jangan sampai bayi tersedak ketika tertawa karena bayi yang digelitiki sampai terbahak-bahak akan mudah tersedak sehingga bayi dapat mengalami sesak napas.

Jika ingin menggelitiki boleh saja tapi dilakukan secara halus atau pelan, bukan secara berulang-ulang. Karena bayi yang digelitiki akan mendapat sensasi geli yang ditimbulkan oleh sentuhan terhadap area tubuh tertentu. Sensasi geli tersebut dapat menimbulkan rasa yang menyenangkan, namun terkadang akan menimbulkan sensasi yang tidak menyenangkan terutama jika digelitiki secara berulang-ulang. Jika sensasi yang timbul adalah tidak menyenangkan, maka bayi cenderung lebih mudah menangis.